Menulis sering kali dianggap sebagai aktivitas yang sederhana. Padahal sebenarnya, menyimpan potensi yang luar biasa. Saya sepenuhnya setuju dengan ajakan Rektor untuk “Menulislah!”—seruan yang bukan hanya ditujukan untuk civitas akademika, tapi untuk siapa saja yang ingin berkembang dan berbagi ilmu. Menulis adalah sarana untuk berbicara tanpa batas, berbagi pemikiran, dan mengekspresikan diri. Bisa menjadi jembatan antara kita dan dunia luar, memungkinkan pemikiran kita didengar dan bahkan memberi inspirasi bagi orang lain.
Dalam konteks Islam, menulis bahkan memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Kita bisa melihatnya dari surah Al-Qalam yang dimulai dengan kalimat “Nun wal-qolami wa ma yasturun”—”Demi pena dan apa yang mereka tulis.” Allah swt. bersumpah dengan pena, yang berarti menulis adalah aktivitas yang mulia. Ini bukan hanya soal menghasilkan karya, tetapi tentang bagaimana setiap tulisan bisa menjadi saksi atas apa yang kita pikirkan dan perjuangkan.
Menulis bukan hanya tentang menghasilkan kata-kata, tetapi lebih kepada proses pemikiran, pemahaman, dan pengolahan informasi. Ketika kita menulis, kita tidak hanya berusaha menyampaikan informasi, tetapi juga menguji pemahaman kita sendiri. Menulis adalah cara untuk menjernihkan pikiran, merumuskan ide-ide, dan bahkan menemukan solusi dari permasalahan yang kita hadapi.
Lebih dari itu, menulis adalah cara kita berbagi ilmu. Sebagaimana yang sering kita dengar, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disebarkan. Dengan menulis, kita dapat memberi manfaat kepada orang lain, memperluas wawasan, dan bahkan menginspirasi perubahan. Ini adalah bentuk kontribusi kita kepada masyarakat dan generasi mendatang.
Jadi, meskipun menulis terlihat seperti tugas yang membebani bagi sebagian orang, sebenarnya ia adalah kebebasan. Kebebasan untuk mengungkapkan diri, berbagi pengetahuan, dan membuka jalan bagi pemikiran-pemikiran baru.
Mari, kita mulai menulis. Entah itu untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, atau sekadar mencurahkan perasaan. Karena siapa tahu, tulisan kita bisa menginspirasi lebih banyak orang daripada yang kita bayangkan.
Penulis: Khotibul Umam