Malam mulai larut di pesantren. Aktivitas mengaji perlahan usai. Di sebuah ruangan, beberapa santri masih sibuk mempersiapkan diri untuk tampil di depan teman-temannya. Ada yang membaca teks pidato, menghafalkan pembukaan, atau sekadar menarik napas panjang untuk mengusir gugup.
Tak lama kemudian, seorang santri dipanggil ke depan. Ia menggenggam mikrofon, berdiri di hadapan audiens, lalu mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Beberapa detik pertama mungkin terasa panjang bagi seorang santri yang sedang belajar berbicara di depan umum. Namun, setelah beberapa kalimat terucap, rasa gugup perlahan menghilang.
Pemandangan semacam ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan pesantren. Namanya muhadharah, yaitu latihan berbicara atau berpidato di depan khalayak yang bertujuan melatih kemampuan komunikasi dan dakwah santri.
Namun, muhadharah seharusnya tidak berhenti sebagai rutinitas tampil di depan teman-teman. Di tengah perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi, kegiatan ini justru dapat menjadi ruang penting untuk menyiapkan santri menghadapi dunia dakwah yang semakin luas.
Muhadharah bukan sekadar hafal dan tampil melainkan muhadharah memiliki nilai pendidikan yang lebih besar daripada sekadar menghafalkan teks pidato. Ketika tampil, santri belajar menyusun gagasan, memahami materi, mengatur intonasi, menjaga kontak mata, mengendalikan rasa gugup, hingga membaca respons audiens. Sejumlah penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa muhadharah dapat membantu mengembangkan kemampuan public speaking, kepercayaan diri, dan retorika dakwah santri.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: jangan sampai muhadharah hanya menghasilkan santri yang pandai menghafal teks. Pada tahap awal, teks memang diperlukan sebagai panduan. Tetapi kemampuan dakwah tidak cukup diukur dari seberapa lancar seseorang mengucapkan kalimat yang sudah dihafalkan.
Seorang dai perlu memahami apa yang ia sampaikan. Ia harus mampu menjelaskan gagasan dengan bahasa yang sederhana, memberikan contoh yang relevan, berimprovisasi ketika diperlukan, dan menyesuaikan cara berbicara dengan karakter pendengarnya.
Karena itu, pola pembinaan muhadharah perlu bergeser dari sekadar “hafal dan tampil” menjadi “pahami, komunikasikan, dan evaluasikan.” Santri yang memahami substansi materi akan lebih siap berbicara tanpa bergantung sepenuhnya pada teks. Ketika lupa satu kalimat, ia tidak kehilangan arah karena memahami pesan utama yang hendak disampaikan. Di situlah retorika mulai terbentuk.

Dakwah Bukan Hanya Soal Isi
Pesan keagamaan yang baik belum tentu efektif jika disampaikan dengan cara yang tidak tepat. Bahasa yang terlalu rumit dapat membuat audiens kehilangan perhatian. Penyampaian yang monoton dapat membuat pesan sulit diterima. Begitu pula materi yang tidak sesuai dengan kebutuhan pendengar akan lebih sulit menyentuh mereka. Karena itu, seorang dai membutuhkan kemampuan membaca audiens.
Cara menyampaikan dakwah kepada anak-anak tentu berbeda dengan mahasiswa. Komunikasi dengan masyarakat pedesaan dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan masyarakat perkotaan. Demikian pula dakwah di hadapan jamaah secara langsung tidak selalu dapat disampaikan dengan pola yang sama ketika dikemas menjadi video berdurasi satu menit.
Retorika membuat pesan yang baik menjadi lebih mudah diterima. Kemampuan tersebut tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan latihan berulang, evaluasi, dan keberanian untuk melakukan kesalahan. Dalam konteks inilah muhadharah memiliki posisi strategis.
Ketika Mimbar Bertemu Media Sosial
Tantangan dakwah hari ini berbeda dengan masa lalu. Masyarakat tidak lagi hanya memperoleh pengetahuan agama melalui masjid, majelis taklim, atau pengajian. Berbagai ceramah, kajian, dan konten keislaman kini hadir di layar telepon genggam.
Satu konten dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Namun, audiens digital juga memiliki perhatian yang sangat cepat berpindah. Dalam hitungan detik, seseorang dapat meninggalkan sebuah video jika pembukaannya tidak menarik atau penyampaiannya dianggap membosankan.
Situasi ini menuntut dai memiliki kemampuan komunikasi yang lebih adaptif. Bukan berarti dakwah harus mengejar popularitas atau mengikuti semua tren. Substansi keagamaan tetap menjadi fondasi. Tetapi pesan yang benar juga perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang jelas, menarik, etis, dan sesuai dengan karakter media. Di sinilah muhadharah perlu beradaptasi.
Santri tidak cukup hanya berlatih berdiri di depan mimbar. Mereka juga dapat belajar merekam penampilan sendiri, kemudian mengevaluasinya: apakah suara terlalu pelan? Apakah intonasi monoton? Apakah terlalu sering membaca teks? Apakah ekspresi sesuai dengan pesan? Apakah pembukaan mampu menarik perhatian?
Latihan semacam ini dapat dikembangkan menjadi praktik membuat video dakwah, podcast, kultum singkat, atau konten edukasi keislaman. Teknologi tidak harus menjadi lawan tradisi pesantren. Teknologi justru dapat menjadi alat untuk memperluas jangkauan tradisi tersebut.
Pembina Menentukan Arah
Efektivitas muhadharah juga sangat bergantung pada pola pembinaannya. Pembina tidak cukup hanya menentukan jadwal tampil dan memberikan penilaian. Ia perlu menjadi mentor yang membantu santri memahami kekuatan dan kelemahannya.
Santri yang berbicara terlalu cepat dapat dilatih mengatur tempo. Santri yang terlalu bergantung pada teks dapat diarahkan menggunakan kata kunci. Mereka yang kurang percaya diri perlu mendapatkan kesempatan tampil secara bertahap. Yang tidak kalah penting, kesalahan harus diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar.
Jika setiap kesalahan justru membuat santri takut tampil, muhadharah kehilangan salah satu fungsi utamanya. Sebaliknya, jika kesalahan dijadikan bahan evaluasi, santri akan belajar bahwa kemampuan berbicara memang dibangun melalui latihan.
Keberhasilan program pun tidak cukup diukur dari banyaknya santri yang tampil. Ukurannya harus lebih substantif: apakah mereka semakin percaya diri, memahami materi, mampu menyusun gagasan, menyesuaikan bahasa dengan audiens, dan menggunakan media secara efektif?
Dari Muhadharah Menuju Dakwah yang Relevan
Setiap santri memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Ada yang kuat dalam bercerita, ada yang memiliki suara penuh energi, dan ada pula yang lebih tenang tetapi mampu menyampaikan pesan secara menyentuh. Muhadharah memberi ruang bagi santri untuk menemukan gaya tersebut.
Karena itu, tujuan akhirnya bukan mencetak santri yang semuanya berbicara dengan pola yang sama. Tujuannya adalah membentuk komunikator yang mampu menyampaikan pesan Islam dengan benar, jelas, dan sesuai dengan karakter dirinya serta kebutuhan audiens.
Kualitas dakwah tidak lahir secara tiba-tiba. Di balik seorang dai yang mampu berbicara tenang di hadapan banyak orang, terdapat proses panjang: membaca, memahami, menyusun gagasan, berlatih, tampil, menerima kritik, dan mencoba kembali. Muhadharah menyediakan proses itu.
Maka, di tengah derasnya arus informasi digital, kegiatan muhadharah tidak semestinya dianggap sebagai tradisi lama yang sekadar dipertahankan. Ia justru dapat menjadi laboratorium komunikasi dakwah tempat santri belajar mengubah pengetahuan menjadi pesan yang dapat dipahami, dirasakan, dan diterima masyarakat. Mimbar pesantren boleh tetap sederhana. Tetapi keterampilan yang dibangun di atasnya harus mampu menjangkau dunia yang semakin luas.
Penulis: Az dhurrofiq, Mahasiswa KKN IAIM Lumajang di Kalimantan
Editor: Nabila N.A

