Kamis, Mei 21, 2026

Distingsi Keilmuan Pesantren Harus Dijaga di Era Digital

LUMAJANG – Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIM) Lumajang menggelar sarasehan dengan tema ‘Adaptasi PTKIS Berbasis Pesantren di Era Transformasi Digital: Menjaga Jari Diri dan Distingsi Keilmuan Pesantren’ di Ruang rapat kampus dengan narasumber Penasehat Ahli Menteri Agama Prof. Dr. Nur Syam, M.Si, Kamis 21 Mei 2026.

Prof. Nur Syam mengatakan, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) berbasis pesantren harus tetap menjaga distingsi atau kekhasan keilmuan pesantren di tengah arus transformasi digital yang semakin masif. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa distingsi pesantren terletak pada tradisi intelektual Islam yang berbasis kitab turats, penguasaan bahasa Arab, serta integrasi antara ilmu, amal, dan moralitas pendidikan.

Menurutnya, pesantren memiliki keunggulan yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lain. Tradisi kajian kitab kuning dan lingkungan pendidikan yang holistik menjadi modal besar bagi PTKIS untuk berkembang menjadi institusi pendidikan Islam modern tanpa kehilangan identitasnya.

“Distingsi keilmuan pesantren jangan sampai hilang hanya karena terlalu sibuk mengejar modernitas digital,” ujar Prof. Nur Syam.
Ia menjelaskan, konsep distingsi dapat dipahami sebagai pembeda atau ciri khas yang membuat pesantren memiliki identitas tersendiri dibanding institusi pendidikan lainnya. Dalam konteks sosiologi, distingsi juga berkaitan dengan cara suatu kelompok mempertahankan identitas budaya dan intelektualnya.

Meski demikian, Prof. Nur Syam menilai PTKIS berbasis pesantren masih belum sepenuhnya siap menghadapi era transformasi digital. Ia menyebut terdapat tiga persoalan utama yang masih menjadi hambatan, yakni keterbatasan sumber daya manusia yang melek teknologi, infrastruktur digital yang belum memadai, serta minimnya penganggaran untuk digitalisasi pendidikan.

Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan (AI), big data, hingga virtual reality disebutnya sebagai tantangan baru yang harus segera direspons dunia pendidikan Islam. Menurutnya, literasi digital kini menjadi kebutuhan mendesak bagi dosen maupun mahasiswa.

Sebagai solusi, ia mendorong PTKIS untuk mulai membuka diri terhadap teknologi, melakukan pemetaan potensi digitalisasi, serta melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun strategi transformasi pendidikan. Lebih jauh, Prof. Nur Syam juga menekankan bahwa pendidikan pesantren tidak boleh hanya menghasilkan manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga harus melahirkan manusia yang memiliki kekuatan moral, sosial, dan spiritual.

“Teknologi hanyalah instrumen. Jangan sampai teknologi menggantikan nilai-nilai utama pendidikan pesantren,” katanya. Di akhir pemaparannya, ia mengajak PTKI dan pesantren membangun kolaborasi menuju “New Baitul Hikmah”, yakni pusat kebangkitan peradaban Islam modern yang mampu mengintegrasikan agama, filsafat, dan sains secara harmonis. (RF)

Artikel Terkait

Artikel Terbaru