Rabu, Agustus 12, 2026

Membumikan Fikih Bersuci: Belajar Thaharah dari Pesantren hingga Kehidupan Sehari-hari

Oleh: Amiruddin – Mahasiswa KKN di Kutai Kartanegara Kalimantan Timur

Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa bukan sekadar kegiatan untuk hadir di tengah masyarakat dan menjalankan program kerja. Lebih dari itu, KKN merupakan ruang untuk belajar, berbagi pengetahuan, sekaligus memahami secara langsung persoalan yang ada di tengah masyarakat. Ilmu yang selama ini diperoleh di ruang kelas diuji relevansinya ketika berhadapan dengan kehidupan nyata.

Salah satu pengalaman tersebut saya temukan ketika melaksanakan kegiatan KKN di Pondok Pesantren Darul Muta’allimin, Sebulu, Kutai Kartanegara. Di tempat ini, kami mencoba menghadirkan sebuah program sederhana tetapi memiliki makna penting dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu “Membumikan Fikih Bersuci melalui Program Thaharah.”

Mengapa thaharah? Karena bersuci merupakan bagian yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Sebelum melaksanakan shalat, seseorang perlu memastikan dirinya berada dalam keadaan suci. Wudhu, mandi wajib, tayamum, hingga cara membersihkan najis bukan sekadar materi dalam kitab fikih, tetapi merupakan pengetahuan yang dipraktikkan hampir setiap hari.

Namun, kedekatan dengan praktik bersuci tidak selalu berarti bahwa setiap orang telah memahami tata caranya secara utuh. Ada hal-hal yang tampak sederhana tetapi sering luput dari perhatian. Misalnya, memastikan air benar-benar mengenai bagian anggota wudhu, termasuk siku, tumit, sela-sela jari, dan bagian lainnya. Begitu pula dengan pemahaman mengenai jenis najis dan cara menyucikannya, tata cara mandi wajib, maupun keadaan tertentu yang membolehkan seseorang melakukan tayamum.Dari sinilah kami melihat bahwa pembelajaran fikih thaharah perlu disampaikan bukan hanya melalui penjelasan teoritis, tetapi juga melalui praktik.

Penyampaian Materi Thaharah kepada Santri Pondok Pesantren Darul Muta’allimin Sebulu, Kutai Kartanegara

Dari Teori Menuju Praktik

Program “Thaharah” kami laksanakan dengan pendekatan yang sederhana dan komunikatif. Para santri diajak memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan thaharah, mengapa kesucian penting dalam ibadah, serta bagaimana fikih mengatur persoalan hadas dan najis.

Materi yang diberikan mencakup wudhu, mandi wajib, tayamum, istinja’, macam-macam najis, cara menyucikan najis, serta hal-hal yang dapat membatalkan wudhu. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan memanfaatkan media visual agar pembahasan yang bersifat teoritis menjadi lebih mudah dipahami.

Akan tetapi, bagi kami, inti dari kegiatan ini bukan hanya terletak pada penyampaian materi. Bagian yang paling menarik justru terjadi ketika para santri diajak untuk mempraktikkan secara langsung tata cara bersuci.

Dalam praktik wudhu, misalnya, mahasiswa KKN mendampingi para santri dan memberikan koreksi apabila terdapat bagian yang belum dilakukan secara tepat. Perhatian diarahkan pada hal-hal yang sering dianggap sepele, seperti memastikan air merata pada anggota wudhu dan tidak ada bagian yang terlewat.

Praktik Wudhu oleh Santri dalam Program “Thaharah”

Dari proses tersebut, kami belajar bahwa pembelajaran yang melibatkan praktik secara langsung sering kali memberikan pengalaman yang lebih kuat dibandingkan sekadar mendengarkan penjelasan. Para santri tidak hanya mengetahui bagaimana tata cara bersuci, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk melihat, mencoba, dan memperbaiki praktik mereka.

Thaharah Bukan Sekadar Persoalan Air

Ada satu hal yang menarik dari kegiatan ini: thaharah sebenarnya mengajarkan lebih dari sekadar bagaimana menggunakan air untuk bersuci. Thaharah mengajarkan kesadaran. Kesadaran bahwa ibadah memiliki tata cara yang perlu dipahami. Kesadaran bahwa kebersihan dan kesucian merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Dan yang tidak kalah penting, thaharah mengajarkan ketelitian dalam menjalankan ajaran agama.

Wudhu, misalnya, bukan hanya aktivitas membasuh anggota tubuh. Di dalamnya terdapat pembelajaran mengenai keteraturan, kebersihan, dan kesiapan seseorang untuk menghadap Allah SWT dalam ibadah. Demikian pula mandi wajib yang menuntut seseorang memahami bagaimana memastikan air merata ke seluruh tubuh sesuai dengan ketentuan fikih.

Begitu pula tayamum. Pemahaman mengenai tayamum menunjukkan bahwa syariat Islam memiliki ketentuan yang mempertimbangkan kondisi manusia. Ketika air tidak tersedia atau terdapat keadaan tertentu yang menyebabkan penggunaan air tidak memungkinkan, terdapat bentuk keringanan yang tetap memungkinkan seorang Muslim melaksanakan kewajibannya.

Dengan demikian, belajar thaharah pada akhirnya bukan hanya belajar tentang “cara bersuci”, melainkan juga belajar memahami bagaimana ajaran Islam hadir dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Antusiasme Santri dan Pelajaran bagi Mahasiswa

Selama kegiatan berlangsung, antusiasme para santri menjadi salah satu hal yang paling berkesan. Mereka tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga aktif bertanya mengenai persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan muncul dari hal-hal yang sederhana hingga persoalan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, seperti apa saja yang membatalkan wudhu, bagaimana cara membersihkan najis pada pakaian, bagaimana pelaksanaan mandi wajib, serta kapan tayamum dapat dilakukan.

Bagi kami sebagai mahasiswa KKN, pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menjadi pengingat bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan keagamaan sangat beragam. Sebuah materi yang mungkin dianggap sederhana di ruang kelas dapat menjadi sangat penting ketika diterapkan dalam kehidupan nyata.

Kegiatan ini juga memberikan pelajaran bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik. Memberikan pengetahuan, mendampingi proses belajar, dan membantu masyarakat meningkatkan pemahaman keagamaan juga merupakan bentuk pengabdian yang memiliki nilai jangka panjang.

Membumikan Fikih dalam Kehidupan

Istilah “membumikan” dalam program ini bukan sekadar sebuah nama. Bagi kami, membumikan fikih berarti menghadirkan pengetahuan fikih agar tidak berhenti sebagai teori yang tersimpan dalam buku atau disampaikan di ruang pembelajaran, tetapi benar-benar dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Thaharah merupakan salah satu contoh paling dekat. Hampir setiap Muslim berinteraksi dengannya. Karena itu, pemahaman yang baik mengenai bersuci seharusnya menjadi bagian dari pembinaan keagamaan yang berkelanjutan.

Dalam kegiatan ini, kami juga memberikan panduan sederhana mengenai tata cara wudhu dan tayamum yang dapat digunakan kembali oleh para santri. Harapannya, materi yang diberikan tidak berhenti ketika mahasiswa KKN meninggalkan lokasi, tetapi dapat terus dipelajari dan dipraktikkan.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program pengabdian bukan hanya diukur dari terlaksananya kegiatan pada hari itu. Hal yang lebih penting adalah apakah pengetahuan dan pengalaman yang diberikan dapat terus memberikan manfaat setelah kegiatan berakhir.

KKN sebagai Ruang untuk Belajar dan Berbagi

Program “Membumikan Fikih Bersuci melalui Program Thaharah” mungkin terlihat sederhana. Tidak ada pembangunan gedung, tidak ada fasilitas besar yang diberikan, dan tidak membutuhkan program yang rumit. Namun, justru dari kesederhanaan tersebut kami menemukan makna penting dari sebuah pengabdian.

KKN mengajarkan bahwa mahasiswa bukan hanya datang untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat. Mahasiswa juga datang untuk belajar dari masyarakat.

Di Pondok Pesantren Darul Muta’allimin, kami belajar bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika dapat dibagikan dan diterapkan. Kami juga belajar bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung melalui ruang kelas formal. Halaman pesantren, tempat wudhu, sesi diskusi, dan praktik bersama pun dapat menjadi ruang pembelajaran yang sangat berarti.

Semoga program “Thaharah” dapat menjadi langkah kecil dalam meningkatkan pemahaman para santri mengenai pentingnya bersuci dan menjaga kebersihan. Lebih dari itu, semoga kegiatan ini menjadi pengingat bagi kami sebagai mahasiswa bahwa ilmu yang dimiliki bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga untuk memberi manfaat.

Sebab pada akhirnya, membumikan ilmu berarti menjadikannya dekat dengan kehidupan, mudah dipahami, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi sesama.

Editor: Nabila NA

Artikel Terkait

Artikel Terbaru