Penjelasan singkat ini akan menguraikan bagaimana posisi kita sebagai umat Islam, khususnya bagi kita yang memiliki kapasitas ilmu keagamaan pada bidang masing-masing, untuk berdakwah menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, hal ini tercantum dalam surat Ali Imron ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
Di dalam surat Ali Imron ini ada kata مِّنْكُمْ, ada ulama yang memahaminya dalam arti Sebagian, dengan demikian perintah berdakwah yang pesankan oleh ayat tidak tertuju kepada setiap orang. Bagi yang memahaminya demikian, ayat ini buat mereka mengandung dua macam perintah.
Perintah pertama kepada seluruh umat Islam agar membentuk dan menyiapkan satu kelompok khusus yang bertugas melaksanakan dakwah, sedang perintah yang kedua adalah kepada kelompok khusus itu untuk melaksanakan dakwah kebjikan dan makruf serta mencegah kemungkaran, sebagaimana yang disampaikan Prof. Dr. KH. Quraisy Shihab dalam tafsir al-Misbahnya.
Ada juga ulama’ yang memfungsikan kata مِّنْكُمْ dalam arti penjelasan sehingga ayat ini merupakan perintah kepada setiap orang muslim untuk melaksanakan tugas dakwah, masing-masing sesuai kemampuannya. Memang, jika dakwah yang dimaksud adalah dakwah yang sempurna, tentu saja tidak semua orang dapat melakukannya atau tidak ada sama sekali.
Di sisi lain, kebutuhan Masyarakat di zaman modern AI (Kecerdasan buatan) ini menyangkut informasi yang benar di tengah arus informasi, bahkan perang informasi yang demikian pesat dengan nilai-nilai baru yang sering kali membingungkan, semua itu menuntut adanya kelompok khusus yang menangani dakwah dan membendung informasi yang menyesatkan.
Sehingga dalam mewujudkan amar ma’ruf nahi mungkar dalam diimplementaiskan dalam berbagai bentuk, antara lain: 1. Menjadi teladan dalam kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab 2. Mengajak keluarga, teman, dan masyarakat kepada nilai-nilai kebaikan dengan cara yang santun 3.Menggunakan media sosial untuk menyebarkan ilmu, motivasi, dan pesan-pesan positif. 4. Mencegah penyebaran hoaks, fitnah, ujaran kebencian, serta berbagai bentuk kemungkaran digital. 5. Menyampaikan nasihat dengan hikmah, penuh kasih sayang, dan tidak merendahkan orang lain. Ini semua tidak lepas dari dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW.
Namun semua itu, harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi, kemampuan, serta cara yang paling membawa kemaslahatan kepada umat Rasulullah SAW. Karena Dakwah yang dilakukan tanpa menjaga persaudaraan berpotensi menimbulkan konflik, sedangkan persatuan tanpa kepedulian terhadap kebaikan juga akan melemahkan kualitas umat.
Oleh karenya, dalam Merefres ulang pemahaman terhadap ayat tersebut mengingatkan juga bahwa amar ma’ruf nahi mungkar bukan hanya kewajiban untuk mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi juga tanggung jawab untuk menjadi teladan, menjaga persatuan, menyebarkan kebaikan, serta membangun masyarakat yang damai, adil, dan diridhai Allah SWT.
Penulis: Dr. H. Zainuddin, M.Pd.I

