LUMAJANG — Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Institut Agama Islam Lumajang menggelar rapat koordinasi di aula kampus pada Sabtu (6/6). Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas pengurus serta perwakilan mahasiswi dari berbagai angkatan.
Rapat koordinasi ini diselenggarakan sebagai forum diskusi untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, khususnya terkait menurunnya jumlah mahasiswa baru dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pada tahun akademik ini.
Dalam sesi diskusi, para peserta menyoroti sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya minat calon mahasiswa untuk memilih Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Selain adanya stigma bahwa IAT merupakan jurusan yang sulit dan memiliki tantangan akademik yang cukup tinggi, masih terdapat anggapan di tengah masyarakat yang mempertanyakan prospek lulusan program studi tersebut dengan pertanyaan, “Kalau masuk IAT, nanti mau jadi apa?”
Menurut peserta rapat, persepsi tersebut turut memengaruhi minat calon mahasiswa dalam menentukan pilihan studi di perguruan tinggi. Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Syahrul Hidayatullah, M.H., menegaskan bahwa IAT merupakan program studi yang fleksibel dan memiliki ruang pengembangan kompetensi yang luas.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian pekerjaan, melainkan juga pada pembentukan pola pikir, karakter, dan kualitas sumber daya manusia. “Apa gunanya memiliki pekerjaan yang baik jika pola pikir dan karakternya buruk? Pendidikan hadir untuk membentuk cara berpikir yang baik sehingga seseorang mampu memberikan manfaat bagi dirinya sendiri maupun masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa lulusan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir memiliki peluang untuk berkiprah di berbagai bidang, baik pendidikan, penelitian, dakwah, sosial-keagamaan, maupun sektor-sektor lain yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemahaman keislaman yang mendalam.
Melalui rapat koordinasi tersebut, para peserta sepakat untuk meningkatkan upaya sosialisasi dan promosi program studi kepada masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, sekaligus menghilangkan stigma yang selama ini berkembang. Dengan demikian, minat calon mahasiswa untuk bergabung dengan Program Studi IAT diharapkan dapat kembali meningkat pada masa mendatang. (Elisa Rosida Lastarji dan Hima Nuria Sabila)

