Bagi tiga mahasiswa Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIM) Lumajang, perjalanan KKN Internasional ke Selangor, Malaysia, terasa berbeda. Bukan sekadar pengabdian, tapi juga momen “pulang ke akar”. Pasalnya, di tengah hiruk-pikuk perkebunan sawit Kampung Tanjung Sepat Darat, mereka justru bertemu dengan sosok yang akrab di telinga yaitu Ustaz Ahmad Ja’far Sodiq S.H.

Beliau adalah alumni Pondok Pesantren Banyuputih Kidul sekaligus lulusan IAIM Lumajang yang kini dipercaya menjadi pemimpin Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren An-Nahdloh. Kehadirannya menjadi jembatan emosional yang mencairkan suasana asing di tanah Malaysia. “Ketika pertama kali melihat Ustaz Ja’far menyambut kami di gerbang Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (KLIA 2), rasa canggung itu hilang. Beliau bicara dengan ala santri yang sangat kental, persis seperti dosen kami di kampus,” ujar salah satu mahasiswa KKN dengan semringah.
Peran Strategis Alumni di Tengah Modernisasi
Pondok Pesantren An-Nahdloh yang berdiri megah di atas lahan dua hektare ini memang didirikan pada tahun 2019 dan diresmikan pada 21 Mei 2023 oleh para Mustasyar PBNU. Namun, di balik kokohnya bangunan hijau khas NU itu, ada peran besar putra-putri terbaik Indonesia, khususnya dari Lumajang, yang menjadi garda terdepan pengasuhan.
Ustaz Ja’far tidak sendiri. Ia bergabung dengan pengurus inti lain seperti Ustaz Rizal bin Jamingan sebagai Mudirul Ma’had, Ustaz Khairul Umam (asal Pamekasan) sebagai Ketua Pengurus, dan Ustaz Mas’udi Al-Ayyubi (asal Bangkalan) yang memimpin bidang Tahfiz. Namun, kedekatan kultural dengan mahasiswa KKN IAIM Lumajang sangat terasa karena Ustaz Ja’far adalah alumni kampus sendiri.
Beliau adalah bukti nyata bahwa alumni IAIM Lumajang tidak hanya berkarya di dalam negeri, tetapi juga diakui kemampuannya dalam mengelola pendidikan klasik Islam di tingkat internasional.
Menjaga Tradisi ‘Salaf’ di Tengah Tren Tahfiz
Di Selangor, banyak pesantren yang berlomba menjadi pusat Tahfiz Al-Qur’an. Namun, An-Nahdloh memiliki ciri khas yang tidak lepas dari didikan para alumnusnya, termasuk Ustaz Ja’far: mempertahankan kajian kitab kuning.
Para santri yang berjumlah sekitar 80 orang itu tidak hanya disibukkan dengan hafalan. Di bawah bimbingan para pengasuh yang mayoritas berasal dari basis pesantren salaf di Madura dan Jawa Timur, mereka juga mendalami turats, fikih, dan tauhid melalui sistem pendidikan diniyah yang padat. Tradisi yang dibawa oleh alumni IAIM inilah yang membuat pondok ini tetap relevan di tengah gempuran arus modernisasi.
Ritme Pengabdian yang Mengalir
Kegiatan harian di pondok ini berlangsung intens. Dimulai pukul 05.00 pagi dengan salat tahajud, Subuh berjamaah, hingga pembiasaan bahasa asing. Para santri menjalani pendidikan formal setingkat SMP di pagi hari, lalu berganti dengan pengajian kitab kuning di sore hari, dan diakhiri dengan setoran hafalan serta iktisaf (pendalaman kitab) di malam hari. Di sela-sela padatnya kegiatan, mahasiswa IAIM Lumajang turun tangan mendampingi, dan Ustaz Ja’far selalu ada untuk memberi arahan.
“Kami merasa seperti sedang KKN di kampung sendiri. Beliau mengingatkan kami pada cara mengajar yang santai tapi serius, seperti yang diajarkan di kampus dulu,” tambah mahasiswa lainnya.
Jejak Kemitraan yang Terus Berlanjut
Pondok An-Nahdloh memang telah menjadi laboratorium pengabdian bagi sekitar 40 perguruan tinggi di Indonesia. Namun, kemitraan dengan IAIM Lumajang memiliki keistimewaan tersendiri. Adanya alumni yang menjadi pengelola membuat proses adaptasi mahasiswa KKN menjadi sangat singkat. Mereka tidak hanya belajar tentang pengabdian masyarakat, tetapi juga belajar bahwa sebuah institusi pendidikan tidak berhenti di gedung kampus—ia hidup dan berkembang melalui kiprah para alumninya di penjuru dunia.

Harapan besar kini disematkan kepada pondok ini. Diharapkan, dengan pengasuhan dari para alumni berkompeten, An-Nahdloh akan terus melahirkan kader-kader Nahdlatul Ulama yang berpegang teguh pada Ahlussunnah wal Jamaah, mandiri, dan berakhlak karimah. Dan bagi IAIM Lumajang, keberadaan Ustaz Ja’far di sana adalah pengingat bahwa kampus mereka telah berhasil mencetak “duta agama” yang menerangi negeri jiran.
Penulis: Muhammad Ariel Wildan
Mahasiswa Semester VI Prodi MPI Fakultas Tarbiyah IAIM Lumajang yang sedang melaksanakan KKN International di Pondok Annahdlah Selangor Malaysia

