Selasa, Juli 28, 2026

Dari Meja Makan, Menyongsong Masa Depan Santri di Ibu Kota Baru

Oleh; Mochammad Hisan

Seiring proses perubahan besar Kalimantan Timur dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara, ada pekerjaan yang tidak kalah penting dari membangun jalan, gedung, dan pusat-pusat ekonomi, yaitu membangun manusianya.

Alhamdulillah setelah hampir 7 hari melakukan rihlah di Kota Samarinda Kalimantan Timur, pada hari Sabtu, 25 Juli 2026, saya ditemani Pak Afif, Sekretaris LPPM IAIM Lumajang, H. Muhammad Sholeh (tokoh masyarakat Samarinda Kaltim) dan Ustad Rofik (Kepala Sekolah SMP Syaichona Cholil Batu Besaung Samarinda), diberi kesempatan silaturrahim, tabarrukan dan beristifadah kepada KH. Muhammad Ali Cholil, Rois Syuriah PWNU Kalimantan Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Cholil Kalimantan Timur.

Kiai Ali, panggilan akrab KH. Muhammad Ali Cholil, merupakan salah satu dzurriyah Syaikhona Muhammad Cholil bangkalan, ulama karismatik yang sangat alim (’allamah), pencetak ulama-ulama besar di Nusantara dan pemberi isyarat berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), organisasi terbesar umat Islam.

Sejak pulang dari pendidikannya, Kiai Ali lebih memilih berdakwah dan mensyiarkan Islam di Pulau Kalimantan dimulai pada tahun 1990. Salah satu gagasan beliau yang tetap berjalan hingga hari ini adalah membentuk Kontak Santri Agribisnis Indonesia (Konsain), wadah untuk membangun sumber dana bagi lembaga pendidikan, lembaga dakwah dan lembaga sosial seperti pondok pesantren, madrasah, masjid, dan ormas-ormas Islam dan Badan Otonomnya, untuk kepentingan pendidikan, dakwah dan sosial se-Indonesia melalui perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.

Kembali ke pembicaraan silaturrahim, Kiai Ali mendarat sekitar pukul 21.15 WITA di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan setelah menyelesaikan rihlahnya dari Kota Sampit Kalimantan Tengah dan langsung memberi waktu kepada kami berempat dirumah makan yang letaknya tidak jauh dari Pondok beliau – Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan. Waktu yang diberikan sangat terbatas karena disamping sudah banyak tamu yang menunggu kedatangan beliau, besok paginya pukul 6.00 WITA, kiai Ali sudah harus melanjutkan rihlahnya keliling Sulawesi, silaturrahim dengan para kiai dan tokoh ulama yang ada disana.

Sembari menunggu pesanan hidangan datang, beberapa tema pembicaraan mengalir begitu saja dari satu fenomena sosial ke fenomena sosial lainnya. Tentang pesantren, tentang santri yang kini tersebar di berbagai daerah, tentang alumni pesantren yang menempati beragam medan pengabdian, tentang para guru dan masyayikh yang telah mendahului, hingga tentang Kalimantan Timur yang sedang bersiap memasuki fase baru seiring kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN).

Perbincangan hangat KH. Muhammad Ali Cholil dengan Rektor IAIM Lumajang Muhammad Hisan, S.Psi, M.Sos dan Tokoh Masyarakat Kaltim H. Muhammad Sholeh pada Sabtu (25/07/2026). Di Belakang Kiai Ali, terlihat Sekretaris LPPM IAIM Lumajang Muhammad Afifuddin M.E dan Ustadz Muhammad Rofiq (Kepala Sekolah SMP Syaichona Cholil Samarinda

Di tengah-tengah pembicaraan, beliau Kiai Ali menyampaikan salah satu tujuan perjalanan konsolidasinya, dari satu kota ke kota yang lain, dari satu pulau ke pulau yang lain di Indonesia adalah untuk mensiarkan pentingnya keberadaan wadah kultural yang bisa menyatukan seluruh elemen santri se-Nusantara dan di beri nama IHSAN (Ikatan dan Himpunan Santri Alumni se-Nusantara).

IHSAN: Rumah Kultural Santri Nusantara

Kiai Ali, memiliki memandang besarnya potensi santri dan alumni pesantren yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Dari situlah beliau menginisiasi berdirinya Ikatan Himpunan Santri Alumni se-Nusantara (IHSAN).

IHSAN bukan dimaksudkan sebagai organisasi formal yang mengambil alih atau menggantikan ikatan alumni masing-masing pondok pesantren. IHSAN justru ditempatkan sebagai wadah kultural yang mempertemukan santri dan alumni dari berbagai pondok pesantren yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia.

Setiap pesantren tetap memiliki identitasnya. Setiap alumni tetap mencintai almamaternya. Setiap santri tetap menjaga sanad dan hubungan batinnya dengan guru serta pesantren tempatnya belajar. Tetapi di atas keragaman itu terdapat satu identitas yang mempertemukan semuanya, yaitu identitas santri.

Almamater boleh berbeda, namun Kiai/Guru tetap dimuliakan. Hubungan santri-Kiai tidak pernah benar-benar selesai ketika seseorang berhenti (boyong; jawa) dari pesantren. Santri boleh boyong. Bilik (asrama) yang dahulu ditempati mungkin telah berganti penghuni. Kitab-kitab yang dahulu dibaca mungkin telah berpindah tangan, tetapi nama kiai yang mengajarinya tetap disebut dalam doa.

Di pesantren, ilmu memang tidak semata hanya dipahami sebagai pengetahuan. Ada sanad, adab, keberkahan, dan penghormatan kepada orang-orang yang menjadi perantara sampainya ilmu. Karena itu, terdapat ungkapan yang sangat masyhur dan kerap dinukil dalam tradisi keilmuan pesantren  ”Aku adalah hamba dari orang yang telah mengajariku satu huruf (Ana ‘abdu man ‘allamanī harfan). Pesan moralnya begitu dekat dengan tradisi pesantren, betapa tingginya penghormatan seorang murid kepada orang yang mengajarinya ilmu.

Karena itu, IHSAN digambarkan sebagai ruang perjumpaan. Sebuah rumah besar tempat berbagai ikatan dan asoiasi alumni pesantren dapat duduk bersama tanpa harus kehilangan rumah asalnya masing-masing. Semangat tersebut menemukan relevansinya dalam ungkapan yang masyhur dalam khazanah Islam ”Al-mu’minu lil-mu’mini kal-bunyān, yasyuddu ba‘dhuhu ba‘dhan (Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan)”.

Dalam konteks kehidupan pesantren, kekuatan itu dapat tumbuh berkembang ketika jejaring santri yang selama ini tersebar mulai saling mengenal (ta’aruf), saling menguatkan dan dan pada puncaknya, saling berkhidmah.

Maka ketika alumni pesantren dipertemukan melalui IHSAN, yang dipertemukan sesungguhnya bukan sekadar orang-orang yang pernah mondok. Mereka membawa guru masing-masing. Membawa tradisi masing-masing. Membawa sanad keilmuan masing-masing. Dan membawa cerita perjuangan para pendahulu pesantren masing-masing. Perbedaan itu bukan alasan untuk saling menjauh. Justru di sanalah kekayaan pesantren Indonesia berada.

Haul, Titik Temu Ukhuwah Para Alumni

Lalu bagaimana ukhuwah itu diwujudkan? Salah satu bentuk konkretnya justru dapat dimulai dari tradisi yang sangat dekat dengan kehidupan pesantren yaitu haul para masyayikh, pendahulu pesantren, para pejuang dan sesepuh daerahnya (Kabupaten) masing-masing.

Bagi kalangan santri, haul bukan sekadar agenda tahunan. Di dalamnya ada doa, ada ingatan kepada guru, ada pembacaan kembali sejarah perjuangan, ada silaturrahim. Dan yang tidak kalah penting, ada proses menyambungkan generasi hari ini dengan generasi yang telah mendahuluinya.

Dalam tradisi pesantren, menghormati orang-orang terdahulu bukan berarti hidup dengan terus-menerus menoleh ke belakang. Justru dari merekalah generasi hari ini belajar bagaimana menatap masa depan. ”Keberkahan bersama orang-orang tua dan para senior di antara kalian (Al-barakatu ma‘a akābirikum)”, begitulah ungkapan hikmah ini menemukan bentuk yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari di pesantren. Para masyayikh ditempatkan sebagai mata rantai yang menghubungkan ilmu dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karenanya dengan menghadirkan IHSAN, tradisi tersebut dapat diperluas menjadi ruang ukhuwah lintas alumni pesantren. Para alumni yang hidup jauh dari pondok asalnya dapat melaksanakan haul para pendahulu dan masyayikh di daerah tempat mereka tinggal. Alumni sebuah pesantren tidak harus berjalan sendirian. Ketika alumni Pondok Pesantren A mengadakan haul para kiai-nya, para sesepuh didaerahnya di Kalimantan Timur misalnya, alumni pesantren B, C, D, dan pesantren-pesantren lain dapat ikut hadir, membantu dan mendoakan.

Begitupun, hari ini berkumpul untuk mendoakan masyayikh satu pesantren. Bulan berikutnya berkumpul kembali mengenang pendiri pesantren yang lain. Tidak dipersoalkan dari pesantren mana seorang santri berasal. Sebab yang sedang dirawat adalah satu hal yang sama, penghormatan kepada orang-orang yang telah mewakafkan hidupnya untuk ilmu, untuk umat, untuk khidmah limaslahatil ammah dan kebaikan untuk agama, bangsa dan negara.

Di sinilah haul menemukan dimensi sosialnya. Dari doa lahir perjumpaan, dari perjumpaan tumbuh persaudaraan, dari persaudaraan terbentuk jaringan dan dari jaringan lahir kebersamaan dan kekuatan untuk berkhidmah.

Dengan demikian, kegiatan haul tidak hanya menjadi ruang mengenang masa lalu. Ia menjadi instrumen kultural untuk membangun masa depan ukhuwah, persatuan, kekuatan dan kebersamaan. Kegiatan Haul, dapat mempertemukan tiga generasi sekaligus. Generasi terdahulu dikenang dan didoakan. Generasi hari ini dipertemukan dan dikuatkan. Sementara generasi yang akan datang dikenalkan kepada sejarah, keteladanan, dan nilai perjuangan para pendahulunya.

IKN dan Medan Khidmah Baru

Gagasan mengenai IHSAN dari Kiai Ali terasa semakin menemukan relecansinya ketika dihadirkan di Kalimantan Timur. Kehadiran IKN di Kalimantan akan membawa banyak perubahan. Bukan hanya perubahan tata ruang dan pembangunan fisik, tetapi juga perubahan demografi dan kehidupan sosial masyarakat.

Orang dari berbagai provinsi akan datang. Profesional dari berbagai bidang akan menetap. Kawasan permukiman berkembang. Aktivitas pendidikan, ekonomi, pemerintahan, teknologi, dan pelayanan masyarakat akan tumbuh.

Kunjungan ke IKN , tampak dari sebelah kiri Muhammad Afifuddin (Sekretaris LPPM IAIM Lumajang), H. Muhammad Sholeh (Tokoh Masyarakat Kaltim), Muhammad Hisan S.Psi, M.Sos (Rektor IAIM Lumajang), dan Ustadz Muhammad Rofik (Kepala Sekolah SMP Syaichona Cholil Batu Besaung Samarinda

Masyarakat Kalimantan Timur akan semakin majemuk. Dan setiap perubahan sosial membutuhkan kekuatan yang mampu menjaga keberadaan nilai. Di sinilah pesantren, santri, kiai, dan jaringan alumni mempunyai peluang mengambil peran.

IKN bukan hanya tentang pembangunan gedung dan infrastruktur. Di sana akan tumbuh masyarakat baru dengan dinamika sosial yang semakin kompleks. Pesantren, santri, dan alumni pesantren perlu hadir untuk ikut membangun manusianya, menjaga nilai, memperkuat kehidupan keagamaan, dan memastikan pembangunan juga memiliki fondasi moral dan spiritual,” Dawuh kiai Ali.

Karena itu, dakwah di kawasan Kalimantan Timur pasca-IKN juga perlu dibaca secara lebih luas. Dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar. Dakwah dapat hadir melalui sekolah dan perguruan tinggi, melalui pemberdayaan ekonomi, melalui pendampingan keluarga, melalui literasi digital, melalui penguatan generasi muda, melalui kegiatan sosial. Dan bahkan melalui jejaring profesional para alumni pesantren.

Santri yang menjadi guru berdakwah melalui pendidikan. Santri yang menjadi pengusaha dapat berdakwah melalui pemberdayaan ekonomi. Santri yang menjadi akademisi berdakwah melalui ilmu pengetahuan. Santri yang bekerja dalam birokrasi berkhidmah melalui pelayanan publik. Santri yang bergerak di dunia digital dapat mengisi ruang-ruang baru dengan narasi keislaman yang moderat dan mencerahkan. Medannya berbeda, tetapi ruhnya sama, khidmah.

Pesantren memiliki kaidah kultural yang sangat dikenal, mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik (Al-muhāfazhatu ‘alal qadīmis shālih wal akhdzu bil jadīdil ashlah).

Kalimantan Timur pasca-IKN dapat menjadi salah satu medan aktualisasi prinsip tersebut. Tradisi harus tetap menjadi akar, silaturrahim dijaga, kiai dan guru dimuliakan, masyayikh didoakan, haul dilestarikan, sanad keilmuan dirawat. Tetapi dari akar yang kokoh itu, cabangnya harus mampu menjangkau dan menjawab serta beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dari sana dapat lahir kajian bersama, kaderisasi dai, beasiswa santri, pemberdayaan ekonomi umat, pengembangan UMKM, pendidikan masyarakat, pengabdian sosial, hingga program-program yang menjawab kebutuhan masyarakat baru di sekitar IKN.

Dari Lumajang, Menyapa Kalimantan

Bagi saya dan IAIM Lumajang, dawuh-dawuh Kiai Ali malam itu memiliki makna yang sangat mendalam, lebih dari sekadar refleksi fenomena sosial keagamaan, hingga melahirkan kegelisahan reflektif, di mana seharusnya IAIM Lumajang sebagai perguruan tinggi berbasis pesantren mengambil peran di tengah masyarakat yang terus bergerak dan berubah.

Tali Asih wujud silaturahim Rektor IAIM Lumajang dengan Pondok Pesantren Syaichona Cholil Samarinda yang disambut oleh Ustad Rofik (Kepala Sekolah SMP Syaichona Cholil Batu Besaung Samarinda)

IAIM Lumajang lahir dari rahim pesantren. Ia tidak hadir dari ruang yang kosong. Jauh sebelum ruang-ruang kuliah dibangun, sebelum kurikulum disusun, dan sebelum aktivitas akademik berkembang seperti sekarang, telah ada tradisi panjang yang menjadi fondasinya, santri yang mengaji, kiai yang mengajar, kitab yang dibaca dan doa yang dipanjatkan serta pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan tanpa bisingnya suara dan pencitraan.

Karena itu, bagi saya, pesantren bukan sekadar latar historis berdirinya IAIM Lumajang. Pesantren adalah identitas sekaligus cara pandang IAIM Lumajang.

Dari pesantren, IAIM belajar bahwa ilmu tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus bergerak menjadi amal. Pengetahuan harus menemukan jalan menuju kemaslahatan. Dan pendidikan pada akhirnya harus melahirkan manusia yang bersedia hadir ketika masyarakat membutuhkan. ”khidmah”, begitulah di pesantren disebut.

Maka ketika pesantren kemudian melahirkan perguruan tinggi, khidmah itu semestinya tidak hilang. Ia justru harus memperoleh medan pengabdian yang semakin luas. Jika dahulu seorang santri berkhidmah dengan mengajar mengaji di langgar atau musala di kampungnya, perguruan tinggi pesantren hari ini harus mampu menerjemahkan semangat yang sama melalui pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi umat, transformasi digital, hingga pendampingan terhadap berbagai persoalan sosial yang terus berkembang.

Dalam perspektif itulah saya memandang IAIM Lumajang tidak semestinya merasa cukup ketika proses perkuliahan berjalan, mahasiswa memenuhi ruang kelas, penelitian dilakukan, dan berbagai kewajiban administratif perguruan tinggi dapat diselesaikan.

Ada tanggung jawab yang lebih jauh dari itu. IAIM Lumajang harus berani keluar dari pagar kampusnya. Ia harus mendengar denyut kehidupan masyarakat. Membaca perubahan zaman. Menemukan persoalan-persoalan baru, kemudian mempertemukan kekayaan tradisi pesantren dengan ilmu pengetahuan untuk menghadirkan jawaban yang dibutuhkan masyarakat.

Karena itu, perjalanan dari Lumajang menuju Kalimantan bagi saya juga dapat dibaca secara simbolik sebagai perjalanan memperluas medan khidmah. Ada jarak geografis yang jauh antara keduanya. Tetapi dunia pesantren sesungguhnya tidak pernah benar-benar mengenal jarak. Di mana ada kiai, santri, alumni, majelis ilmu, dan masyarakat yang membutuhkan pengabdian, di sanalah selalu terbuka ruang untuk bersilaturrahim dan bekerja bersama.

Apalagi Kalimantan Timur kini sedang berdiri di hadapan perubahan besar. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa harapan sekaligus konsekuensi sosial yang tidak sederhana. Akan datang lebih banyak manusia dengan beragam latar belakang. Akan tumbuh komunitas-komunitas baru. Interaksi sosial semakin kompleks. Kebutuhan terhadap pendidikan, pendampingan keagamaan, penguatan keluarga, pemberdayaan ekonomi hingga pembentukan karakter generasi muda akan semakin besar.

Pada titik itulah saya melihat perguruan tinggi berbasis pesantren seperti IAIM Lumajang memiliki sesuatu yang penting untuk ditawarkan. Ia memiliki tradisi, tetapi sekaligus ilmu pengetahuan. Ia memiliki sanad, tetapi juga metodologi akademik. Ia memiliki pengalaman panjang dalam membangun masyarakat dari bawah, sekaligus sumber daya intelektual untuk membaca perubahan sosial secara lebih sistematis.

Pesantren memberikan akar, sedangkan perguruan tinggi memberikan sayap. Akar membuat kita tidak kehilangan nilai ketika zaman berubah. Sayap memungkinkan kita beradaptasi pada medan pengabdian yang lebih jauh.

Karena itu, silaturrahim dengan Kiai Ali dan para santri seniornya, para ustad, tokoh masyarakat, menjadi lebih dari sekadar pertemuan antara Lumajang dan Kalimantan. Percakapan mengenai IHSAN, ukhuwah alumni lintas pesantren, haul para masyayikh, serta peluang dakwah di Kalimantan Timur seakan mengingatkan kembali bahwa jaringan pesantren sesungguhnya adalah kekuatan sosial yang sangat besar apabila mampu dipertemukan. Di situlah perguruan tinggi pesantren dapat mengambil peran sebagai salah satu jembatan.

IAIM Lumajang tentu tidak datang ke Kalimantan untuk membawa semua jawaban. Kami datang untuk bersilaturrahim, mendengar, belajar, dan mencari kemungkinan-kemungkinan untuk berjalan bersama.

Sebab dalam tradisi pesantren, pengabdian memang tidak selalu dimulai dengan program besar. Sering kali ia bermula dari mengetuk pintu, duduk bersama, meminum secangkir kopi, mendengarkan cerita, lalu menemukan bahwa ternyata ada kegelisahan yang sama. wallahu a’lam bi showab.

Artikel Terkait

Artikel Terbaru