Satu hal yang penulis banggakan dan wajib bersyukur dalam hidup ini adalah berstatus sebagai santri, karena sangat sedikit sekali sebagai orang tua untuk menyekolahkan putra putrinya di Pondok Pesantren. Bangga menjadi santri mungkin kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah. Untuk itu penulis sedikit akan menguraikan pendidikan ala Pondok Pesantren.
Berbicara tentang Pesantren identik dengan lembaga tradisional yang senantiasa hidup dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di tanah jawa. Sejak awal kelahirannya, pesantren identik dengan lembaga yang mengajarkan nilai-nilai akhlaq tasawwuf, mempertahankan kemurnian ajaran Islam, sehingga tujuan utama dalam pendirian lembaga inipun sederhana yakni menyiapkan generasi muslim Indonesia yang memiliki kemampuan pendidikan agama dan berakhlak mulia, sekaligus mampu memposisikan dirinya di manapun santri itu berada.
Senada dengan pernyataan di atas ungkapan salah satu ilmuan bahwa pendidikan dalam sebuah pesantren bertujuan untuk mempersiapkan akhlak dan keagamaan. Para santri diharapkan ketika pulang ke masyarakat bisa menjadi pemimpin yang bisa mengayomi dengan kemampuan keagamaan dan akhlak yang baik. Sehingga santri mampu menjadi pewarna bagi masyarakat untuk menjadi lebih baik.
Pesantren Sebagai lembaga yang sudah dikenal sejak abad 16, pesantren sudah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga yang berkontribusi dan berpengaruh besar dalam Sistem Pendidikan Nasional (SPN).
Sepertin yang kita ketahui bahwa Tujuan pendidikan nasional sendiri berfokus pada pilar pembentukan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berilmu, sehat jasmani dan rohani, serta cakap dan kreatif.
Satu target pencapaian pembentukan karakter pribadi-pribadi santun (al-akhlak al-karimah) antar sesama manusia (hablum minannas) maupun ketundukkan kita kepada Allah SWT (hablum minallah) yang dibarengi dengan kompetensi pengetahuan dan skill yang memadai. Saya santri kapanpun siap untuk terjun ke masyarakat.
Perlu diketahui disadari atau tidak, lembaga pendidikan pesantren sejak dahulu kala secara substansi (program dan kurikulum) sudah menerapkan kebutuhan tujuan SPN. Betapa tidak, pembentukan akhlak al-karimah butuh proses panjang, keterlibatan semua pihak, kedisiplinam dan semua sistem/program pendidikan harus terprogram dengan baik.
Indikator lainnya (sekarang sudah menjadi kenyataan), banyak sekolah/madrasah yang tidak lagi melihat pendidikan parsial yang hanya pembelajaran formal, muncullah sekolah berasrama/boarding school. Itu semua tidak lepas dari pengaruh pesantren.
Fenomena terakhir ada kebijakan yang cukup menarik, yakni penerapan sistem Full Days School. Kelembagaan pendidikan keagamaan yang terus memberikan model tersendiri bagi keberlangsangsungan pendidikan nasional.
Keberadaannya pun terus diberikan ruang dan legalitas yang pasti (lihat Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan dan Keagamaan). Namun Pesantren jauh sebelum terbentuknya Peraturan tersebut eksistensinya sudah ada.
Sudah tidak asing lagi secara kelembagaan, pesantren sudah memberikan kontribusi dan peran yang tidak sedikit, yaitu:
Sebagai lembaga pendidikan keagamaan (Islam) tradisonal jika dulu lembaga ini dibilang hanya mampu mencetak ahli agama dan hanya keilmuan Islam semata, tentu tidak pada masa sekarang. Pesantren sudah mensodorkan sebuah argumen tentang pentingnya integrasi keilmuan, pola yang memadukan keunggulan ilmu keislamanan (tafaqquh fil din) di pondok pesantren dengan konsep pengembangan ilmu pengetahuan yang biasa diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi.
Dalam aspek sosial, pesantren juga sudah berusaha menunjukkan tajinya sebagai lembaga pendidikan terbuka (inklusif) dengan menghilangkan pembatas sosial yang berkembang di masyarakat, hanya ada komponen utama dalam pesantren, yakni Kyai (ustadz) dan Santri. Kyai berperan sebagai pendidik, pembimbing, pembina, pengasuh, panutan, sekaligus bisa sebagai orang tua.
Sementara santri biasanya berposisi sebagai tholib atau pelajar yang sedang mencari ilmu pengetahuan, pribadinya yang masih butuh bimbingan dan pembinaan dari orang-orang di sekitarnya. Keduanya kerap menjadi unsur utama pesantren yang saling membutuhkan (patron klien) satu sama lain.
Keberadaan santri kian hari semakin diakui.
Kalau dulu alumni santri masih malu-malu mengakui dirinya sebagai santri, tapi hari ini kita harus bangga karena dulu sudah pernah ada yang jadi presiden dan pernah juga santri menjadi wakil presiden yang dalam kesehariaannya tidak pernah lepas dengan sarung sebagai ciri khas dari santri, jadi Menurut penulis keberadaan santri berbeda dengan murid. Sebab, santri tak hanya cukup belajar. Memang, untuk bisa memiliki ilmu syaratnya adalah belajar, al-ilmu bi ta’allum. Namun, santri tidak berhenti sampai di situ.
Barokah merupakan istilah dalam Tradisi santri atau al-barakatu bil hikmah (nyareh barokah). Artinya, kalau ingin hidup berkah, syaratnya harus berkhidmat (ngabuleh) kepada kiai. Sebab ilmu tanpa keberkahan akan hampa ketika terjun di masyarakat. Oleh Karenanya, keberadaan santri pada saat ini merupakan waktu paling tepat untuk terus menunjukkan eksistensinya.
“Kita harus bangga menjadi santri, karena santrilah yang sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. Di tengah kondisi bangsa yang masih begitu stabil saat ini, santri harus ambil bagian dalam mengisi kemerdekaan ini. Khususnya di tempat domisili masing- masing ketika nanti sudah bersentuhan langsung dengan masyarakat. Makanya jangan pernah takut dipanggil santri di manapun kita berada, karena panggilan itu akan menjadikan kita orang yang selalu berhati- hati dalam bertindak dan berperilaku disemua ruang lingkup kehidupan.
Semoga pesantren (almamaterku) tercinta kita ini yang telah membesarkan kita selama ini terus berkontribusi, menginspirasi dan memotivasi kita untuk selalu terlibat dalam perjalanan dunia pendidikan di negeri tercinta kita ini dan mudah- mudahan Kyai, ustadz dan pesantren kita semua dan semua yang terlibat dalam berdirinya pesantren ini selalu dijaga oleh Allah swt, sehingga kita mendapat ilmu yang manfaat dan barokah fiddini waddunya wal akhirah, amin ya Rab. (12-03-2026)
Penulis: Zainuddin al-Faqir

