Lumajang, 13 Februari 2025. Dalam Rangka Haflatul Imtihan ke 93 Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Lumajang berkolaborasi dengan Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIM) Lumajang mengadakan seminar kebangsaan. Berbekal semangat berbagi ilmu dan sekaligus memotivasi peserta dalam mengetahui peran perempuan yang bertalar santri dalam kemajuan bangsa, Institut Agama Islam Lumajang sukses gelar seminar kebangsaan dengan tema āPeran perempuan pesantren mengawal kemajuan bangsaā. Acara yang penuh khidmat ini dihadiri oleh Mahasiswi aktif IAIM Lumajang, (IKA STIS, STAI dan IAIM Lumajang), serta Ikatan Santri Banyuputih (IKSABA) putri. Acara diadakan di Hall PP Miftahul Ulum Putri.
Erlin Indayana Ningsih, M.Pd.I selaku dosen Institut Agama Islam Miftahul Ulum Lumajang turut hadir dalam acara guna menyampaikan sambutan dan memaparkan tujuan diadakannya acara seminar kebangsaan ini. āSeminar ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada perempuan – perempuan khususnya perempuan yang berlatar santri baik dalam peran logistik dan publikā. Ungkapnya.
Seminar ini menghadirkan Narasumber Dr. Hj. Lilik Hamidah, S.Ag., M.Si. selaku Associate Profesor Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam sesi yang interaktif dan penuh motivasi, ia membahas peran perempuan dalam sejarah Islam dan tantangan mereka di era digital. Menurutnya, pesantren perempuan memiliki peran strategis dalam pendidikan dan pembangunan bangsa. āIbu adalah madrasah atau pendidik pertama anaknya, Jika engkau mempersiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya,ā tuturnya.
Dalam seminar ini, peserta diajak memahami bagaimana pesantren perempuan dapat menjadi agen perubahan di berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, dan ekonomi. Dengan penguatan pendidikan agama dan wawasan kebangsaan, mereka berpotensi menjadi pemimpin yang berakhlak dan berdaya saing tinggi. Sesi penutupan materi narasumber menyampaikan āPerempuan itu istimewa, teruslah berkiprah untuk kemajuan bangsa dari berbagai aspek dan bidang kehidupan, Jangan menyerah jika mau berkiprahā ungkapnya.
Seminar ditutup dengan kesimpulan yang disampaikan oleh Moderator, Nabila Nailil Amalia, M.Pd., yang menegaskan bahwaĀ meskipun ada tantangan-tantangan yang sudah kita hadapi baik internal maupun dari faktor eksternal, tetap ingat bahwasannya perempuan itu istiwema, kita bisa mengawal kemajuan bangsa tidak terkekang oleh ruang dan waktu, jadi harus dakwah bil lisan, bil afāal, dan bil IT. āJika ibu madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka ayah adalah kepala sekolahnya,ā tutupnya.
Acara ini menjadi momentum penting bagi perempuan pesantren untuk lebih memahami peran mereka dalam membangun bangsa, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat luas.
Pewarta: Alfi Aprilianingsih, Nurul Qomariah
Editor: Nabila