Sejak jumat sore, 20 Maret 2026 media sosial baik Facebook, Twitter (X), Tiktok, instagram dan lebih-lebih aplikasi yang bersifat personal seperti Whatsapp, telegram dan lainnya diramaikan dengan kehadiran (Presence) ucapan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M. Untuk atas nama dan atau yang diwakilinya beraneka ragam, ada yang mewakili institusi yang dipimpin, organisasi kemasyarakatan (Ormas), keluarga besarnya, keluarga kecilnya dan ada juga yang atas nama pribadi.
Pun, bentuknya bermacam-macam, ada yang berbentuk flayer dengan menampilkan tulisan singkat “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H / 2026 M. Mohon maaf lahir dan batin” dibumbui foto terbaik dan pernak pernik yang mengekspresikan suasana idul fitri. Ada juga video pendek, tanpa editan plus ucapan langsung, ada video hasil editan aplikasi instan dengan iringan alunan musik takbir maupun musik-musik religi lainnya.
Foto, video maupun gambar yang sudah diproduksi diunggah pada status aplikasi pribadi akun media sosial yang dimiliki, dikirimkan via chat pribadi pada kontak yang ada di smartphone masing-masing.
Dalam hitungan detik, cukup dengan menggerakkan beberapa jari, flayer, video dan kata-kata yang mengekspresikan suasana Idul Fitri dan penyampaian permohonan maaf lahir dan batin, tersampaikan dan terbaca pada sanak keluarga, kerabat, teman sejawat lintas batas wilayah, lintas ruang dan waktu. Pesannya diterima, dibaca, didengar sekaligus bisa langsung direspon secara cepat pula. Ada yang berbalas flayer juga, ada juga yang hanya berbalas dengan tulisan singkat dan lain sebagainya.
Tua, muda, remaja, anak-anak asyik saling berinteraksi dalam dunia digital dengan yang berjarak jauh. Bahkan melintasi sekat batas wilayah desa kota, sekat negara dan sekat-sekat lainnya. Seakan, berinteraksi melalui dunia digital menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan.
Kenyataan diatas memunculkan fenomena baru ditengah-tengah masyarakat yang oleh Joohan Kim dinamakan pengada digital (Digital being) atau digitalisasi semua jenis informasi. Lebih lanjut Joohan Kim menjelaskan bahwa pengada digital akan membentuk masyarakat digital yang membentuk jalinan relasi yang terikat pada sisitem digital. Sedangkan Yasraf Amir Piliang dalam tulisannya “Masyarakat Informasi dan Digital”, mengungkapkan kenyataan diatas sebagai ruang baru yang disebut sebagai cyberspace, didalamnya humanitas bermigrasi dari yang sebelumnya bersifat alamiah (Natural), kini dilakukan dengan cara artifisial.
Dengan demikian, kultur digital membentuk cara “Hadir” manusia yang berbeda, sebab meskipun manusia tampak hadir dan saling berinteraksi, namun interaksi tersebut tidak sepenuhnya melibatkan natur manusia seutuhnya. Dan bahkan menciptakan identitas fiktif dan hubungan dengan orang yang fiktif pula.
Lalu, apakah hal tersebut sudah bisa dianggap merepresentasikan makna kehadiran (Presence) dalam halal bi halal (Silaturrahim) dalam moment idul fitri? Jawabannya tentu tidak cukup. Kecanggihan teknologi dengan ruang interaksi digital yang diciptakan tidak dapat menggantikan “Kebertubuhan” manusia. Meskipun terjadi interaksi, tetap saja ada “Ruang antara” tidak bisa menjembatani antara ruang natural dan artifisial. Oleh karenanya, hadir silaturrahim secara langsung, dari satu ke rumah lainnya atau dengan model yang sedang trand, berkumpul dalam satu waktu, satu tempat dengan kemasan acara Halal bi Halal masih tetap relevan dan masih menjadi kemustahilan. Akhirnya, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Oleh; Mochammad Hisan

