Kata Alhamdulilah harus selalu kita ucapkan, kita tancapkan dalam hati dan kita praktekkan dalam perbuatan, karena sampai saat ini kita masih diberikan kesehatan untuk berpuasa di hari yang ke 20 Ramadhan ini. Namun agar puasa kita bisa maksimal dan optimal niat ikhlas, sikap sabar, rasa syukur, penuh dengan ketakwaan dan sadar akan pengawasan Allah, kesehatan, dan banyak hal lain. Maka Rugilah mereka yang tidak mampu mengambil pelajaran dari puasa. Maka dari itu dalam tulisan singkat ini, saya akan mengutarakan tengtang niat ikhlas yang sangat jarang dimiliki oleh manusia sekarang.
Salah satu hikmah dari Puasa yaitu mendidik manusia untuk ikhlas, beramal semata-mata karena Allah. Bisa saja seseorang mengaku puasa dan makan diam-diam, padahal Allah mengawasi. Padahal dengan niat ikhlas pertolongan dari Allah turun tanpa mengenal zaman sepeti sebuah maqolah:
اعز كلمة صعدت من الارض الى السماء الاخلاص واعز كلمة نزلت من السماء الى الارض التوفيق
Sangat jelas sekali bahwa pekerjaan yang Allah sandarkan pada diriNya adalah puasa. Sebab Allah ingin mengajarkan manusia tentang ikhlas.”Keikhlasan adalah rahasia hamba dengan Allah. Keikhlasan akan membawa keselamatan dunia akhirat,” ucapnya.
Ada sebuah kisah, Rasul mengatakan, ikhlas adalah sebab keselamatan dunia akhirat. Ini tampak dalam kisah tiga lelaki yang terperangkap di gua dan bertawasul menggunakan keikhlasan amal mereka untuk memohon pertolongan Allah.
Ketika iblis dilaknat dan dikeluarkan dari surga. Lalu, akan dicampakkan ke dalam neraka. Iblis bersumpah akan menggoda manusia untuk menjadi kawan-kawannya di neraka.
Lalu kemudian iblis dan bala tentaranya, menggoda manusia, merayunya dan menjerumuskannya ke dalam jurang kemaksiatan, kemungkaran dan pelanggaran.
Tidak sedikit manusia tergelincir. Namun, iblis sendiri mengatakan bahwa pasukannya tidak akan sanggup menghadapi orang-orang yang ikhlas. Seperti Allah abadikan di dalam ayat-Nya Artinya: Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas terpilih di antara mereka”. (QS Al-Hijr (15): 39-40).
Makna daripada Ikhlas artinya bersih, jernih, murni, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi ataupun immateri. Maknanya, membersihkan hati ini supaya menuju kepada Allah semata. Dengan kata lain dalam beribadah hati tidak boleh menuju kepada selain Allah. Jadi puncak keikhlasan adalah memperibadati Allah tanpa ada menyekutukan di dalamnya.
Mereka yang tidak tergoda adalah yang ikhlasnya sudah terpilih. Allah yang memilihnya sebab keikhlasan yang terus-menerus, sepanjang hidupnya, di awal di tengah dan di akhir setiap amalannya.
Oleh karena itu, untuk mencapai tingkat keikhlasan memang tidak mudah. Namun tahapannya bisa dilatih. Kita perlu belajar dan terus menerus riyadhah. Di antaranya:
Pertama, paksakan. Untuk tahap awal, kita harus memaksa diri kita. Paksakan salat berjamaah, paksakan salat sunah, paksakan tahajud, paksakan dhuha, paksakan baca Quran. Paksakan juga bershodaqah, paksakan berbuat baik. Paksakan mengikhlaskan kesalahan orang lain. Paksakan diri kita untuk selalu berbuat baik.
Contoh Shalat khusyu’, susah. Tapi bukan berarti lalu kita tidak shalat. Shalat saja. Berdzikir setelah shalat masih belum khusyu. Bukan berarti juga meninggalkannya. Coba terus berdzikir dan berdzikir.
Kedua, biasakan jadikan sebagai habit dan rutinitas. Kalau sudah dipaksakan. Lanjut biasakan. Seperti orang biasa makan malam. Sekali tidak makan malam tentu ada yang kurang dan tidak bisa nyenyak tidurnya. Orang yang biasa ngopi, sekali nggak ngopi ada yang hilang sebuah kecerdasan yang kita miliki.
Kalau kita tidak shalat tahajud, lalu ada yang terasa kurang di hati. Kita tidak shalat Dhuha, ada yang menghilang di jiwa. Itu berarti kebiasaan sudah mulai menjadi kegemaran dan mendarah daging.
Ketiga, nikmati atau enjoy bahasa kita. Ini sudah menjadi puncaknya. Kalau kita sudah menikmati amalan-amalan yang kita kerjakan. Shalat tahajud, bukan lagi paksaan dan kebiasaan rutin. Namun sudah pada tahapan kenikmatan ketika kita melakukannya.
Oleh sebab itu, dalam hal menikmati salat, Nabi apabila menghadapi problematika berat, Nabi memilih solusi melalui salat. “Qurrota ‘ainii fish sholaah.” Kata Nabi. “Penyejuk pandanganku ada di dalam shalat.”
Mari kita lihat para penikmat kopi. Dia paham kopi mana yang pas sesuai seleranya. Dia seperti kacau kalau tak ngopi hari itu. Sebab dia telah menikmatinya dan menyatu dengannya. Dia paham ini kopi white, itu kopi kapal api, kopi capuchino, kopi hitam dan lain sebagainya. Bukan sekedar sebagai peminum kopi, tapi sudah menjadi penikmat kopi.
Apalagi dalam ibadah. Kalau kita mengerjakan secara terus-menerus secara istiqamah. Baik sendirian atau berjemaah. Di tempat ibadah, di rumah atau di luar rumah, konsisten dalam amal. Maka, akan mencapai tingkatan ikhlas atau ترك الغير لاجل الغير
Kita akan ikhlas waktunya kepotong 20 menit untuk tahajud, 1 jam sehari untuk tadarus 1 juz Al-Quran. Kita pun ikhlas menerima pemberian Allah. Bahkan ikhlas sebagian hartanya diambil untuk jalan takwa dan jalan kebaikan.
Dengan demikian, ikhlas merupakan ruhul amal, yang tanpanya semua amal dan aktivitas kita kurang dari kata paripurna. Apalagi di bulan yang dengan nikmat dan barokah ini, ikhlas sangat mempergaruhi terhadap puasa yang kita lakukan.
Mudah- mudahan Allah menuntun ke jalan keikhlasan dalam semua ibadah yang kita kerjakan, sehingga predikat muttaqin dalam puasa ini bisa kita raih dan membekas pada kehidupan kita ke depan, amin ya Rab! (09-03-2026)
Penulis: Zainuddin al-Faqir

